Pengembara Cinta

Selasa, 30 Juni 2009

Saya Harus Tetap Semangat


Saya Harus tetap Semangat
Pagi itu, hari Rabu, tanggal 09/09/1999, aku sangat kedinginan sekali, Memang benar adanya kalau kota Malang terkenal dengan cuacanya yang dingin.Pagi itu adalah hari pertama saya berada di pondok, baru sampai di pondok kira jam 18 Wib. Tadi malam. Ini adalah suasana baruku, aku harus meninggalkan keluarga tercintaku demi melanjutkan keinginan dan cita-cita orang tuaku untuk menutut ilmu ke pulau jawa. Lambayan tangan mereka masih terbayang-bayang di mataku, air mata mereka yang mengalir deras, rangkulan dan pelukan mereka masih terasa hangat di tubuhku, lambayan tangan mereka menadakan bahwa mere sanget bersedih sekali melepas anak semata wayangnya ini dan kapalpun terus menengah, meninggalkan pelabuhan Kapuas. Dari kejauhan aku masi melihat mereka menangis sesenggukan sembari terus melambaikan tanga mereka. Aku sanagt sedih. Suasana yang penuh kesidihan ini di tambah dengan lagu yang disetel kencang oleh ABK (Anak Buah Kapal), lagu perpisahan, lagu andalannya Poppy Mercury.
Suasana kota Pontianak sangat berbeda sekali dengan keadaan di kota Malang ini, Pontianak suasananya stabil, enggak terlalu dingin, juga tidak teralu panas, mungkin karena adanya Zamrud Khatulistiwa, sedangkan di Malang suasananya waktu itu dingin sekali (musim tebangan tebu). Suasana ini membuatku tidak betah berada di pondok, suasana riyuh, rebut, ramai dan bising, maklum newbie (anak baru), baru juga semalam sampai di pondok, apalagi mengingat kejadian semalam, waktu persiapan sholat subuh. Masih terbayang jelas di benakku, bagaimana aku merasakan ramai dan bisingnnya suasana pondok pada waktu tarheman (sholla-sholla), para keamanan pesanttren di kerahkan semuanya untuk membangunkan semua santri untuk sholat subuh berjama'ah. Pasnya jam 4 malam. Di benakku hati bertanya " ada gempa apa ini, kok pada rebut semuanya?" Mau bertanya sama kakak senior, tidak berani, karena mereka masih terlelap dan terbuai oleh alam mimpi. Kamarku berisi enam orang, termasuk kamar yang berpenghuni sedikit dari pada kamar-kamar yang ada di pondok. Suara itu itu semakin jelas dalam perasaanku, seakan mendekat, suara serban terkadang menderu," ceplass" suaranya lantang, aku pikir pasti ada santri yang sudah kena pukul oleh keamanan, "ah.... Itu bukan urusanku, kan aku masih anak baru, gak mungkin dong aku di pukul" pikirku.
Tampa terasa ternyata keamanan sudah sampai di kamarku, dengan kontan dia membangunkan kawan kamarku.
" Ayo.....Bangun waktu sholat subuh hampir tiba, ayo ambil whudu' ke hammam!" Keamanan dating dengan suara lantang. Kakak seniorku langsung gelabakan bangun dan mengatakan" Dia masih Baru Utadz" ucapnya menunjuk ke aku."
" Emang kalau baru gak usah sholat berjema'ah ya?" Tanya keamanan itu seakan menyangkal perkataan seniorku denga suara lantang laksana singa kehausan di gurun padang pasir. Aku tersentak kaget. Seniorku tertunduk, diam. Kemudian keamanan tadi bergegas keluar untuk membangunkan kamar sebelah. Aku melihat seniorku, eh ternyata mereka pada tidur lagi, aku pun tidak mau kalah, ikut tidur juga, dalam batinku bertanya" Kenapa mereka tidur lagi ya?". Walaupun aku ikut tidur tenyata sudah tidak bisa nyenyak lagi, diluar kamar masih terdengar suara para keamanan membangunkan para santri dan aku tidak biasa tidur dengan suasana seperti ini, suasana bising. Aku liahat para seniorku kembali kealam mimpi mereka, mereka tewas dalam alam mimpi palsu, mereka tidak merasa bising dnegan suasanya yang sedang rebut dengan suara keamana dan suara percikan air yang keras dari jading tempat wudhu', yang mulai ramai di datangi para santri untuk mengambil wudhu'. Tapi aku masih bingung, mau ke jading tapi ga tahu dimana tempatnya, apalagi aku masih baru.
"Dorrrr...Dorr...Dorrr" Aku kaget sekali ketika mendengar suara ketokan di pintu kamarku dengan suara lantang. Aku yang hanya tiduran menunggu senior bangun beranjak dari tidurku, Aku melihat pemandanga yang sangat unik sekali, para seniorku bangun semuanya dan berdiri ada yang mengambil handuk, ganti sarung dan ada yang sangat unik seklali, dia tidur pas disampingku, didepan lemari gede, dia buka lemarinya, bergegas mengambil surban, dengan cepat membenarkan sajadahnya, yang di pake alas tidur, dia hadapakan keqiblat dan dia pun mulai menghadap ke qiblat serta mengambil tasbih yang digantungkan dilemarinya, mulailah dia bertasbih, aku hanya bias ternyengang dengan kejadian itu. Dan seketika itu para keamanan yang kedua masuk kamar, menghhidupkan lampu kamar dan tampak terlihat anak kamarku sudah pada bangun semuanya.
" Sudah bangun semuanya anak kamarmu Moentero?"
"Iya Ustadz" jawabku! Ustadz ini sudah kenal dengan saya, karena ketika saya menyetorkan formalir bersama Bnag Parman di bagian administrasi, beliau berada disana, beliau adalah ustadz Teuku Abeng, keamanan yang paling disegani dan di takuti di pondok, selain badannya yang tinggi besar, kumis panjang melingkar, seakan sengaja di bentuk, seperti tampak dari kejauhan berlambang love, mungkin beliau ingin menunjukkan dari kumisnya bahwa beliau orangnya romantis, tidak kasar dan lemah lembut .
" Ya uda kalau gitu , kamu cepat ambil wudhu' ntar telat sholat jema'ahnya, Uda tahu kan tempat wudhu'nya?" Tanya beliau.
" Iya Ustadz, insya Allah uda tahu" jawabku tegas! Pura-pura tahu, sambil ketawa dalam hati melihat kawanku didepan lemarinya, yang semakin keras mengangguk-nganggukkan kepalanya, seakan bertasbih ria.
Tanpa curiga dan bertanya ustadz Teuku Abeng pun meninggalkan kamarku.
Aku masih ketawa ketika melihat seniorku, yang masih khusuk berpura-pura bertasbih dan bertahmid. Setelah dia menengok kebelakang, memastikan kalau ustadz Teuku Abeng sudah kelaur dari kamar, diapaun mulai melakukan aksinnya, dia tidur lagi, akan tetapi, dia tidur sambil duduk, kepalanya dililit dengan surban, posisi tetap menghadap qiblat, karena lemarinya menghadap ke timur, jadi posisinya pas sekali seperti orang yang sedang bertasbih, dan seperi orang yang sudah selesai melaksanakan sholat malam. Aku bingung dan bertanya dalam hati " Apa yang kaka ksenior lakukan ya?" Tambah semakin bingung tatkala aku mau jeding, aku tidak mungkin ke jading sendirian, selain aku masih baru, aku juga belum tahu situasinya, sedangkan kawan-kawan yang lain sudah pada ke jading semuanya tanpa mengajak aku, yang tersisa hanya senior yang sedang berpura-pura bertasbih ria.
" Mendingan aku ajak kakak ini aja ke jeding, dia gak akan marah kayaknya, kan dia orangnya peramah" aku membatin.
" Abang, bisa minta tolong, antarkan saya ke jading?" Pintaku.
Abang itu bangun sambil menghela nafas panjang, sambil meperlihatkan giginya yang kuning, ketawa, karena dia sudah tahu kalau aku tahu apa yang dia lakukan, pura-pura habis ngerjakan ibadah malam, yang menunjukkan bahwa dia sudah berwudhu' dan keamanan tidak akan menyuruh dan menegur dia dalam keadaan beribadah, otomatis dia sudah mutawaddhi, (punya wudhu'), dia adalah Parman, dia sering belajar, makanya dia terlihat ngantuk-ngantuk. Masih kelihatan sekali kalau dia masih ngantuk, dia bertanya kepadaku " Kok kamu ga ikut kawan-kawan yang lain seh ke jeding?" tanyanya.
"Mereka sudah menghilang ketika keamanan pertama datang membangunkan kita Bang" Jawabku.
" Oh....Gitu, Ya uda, ayo kita ke Hammam bareng, ambil handuk di belakang pintu itu yang warna hijau, itu punyaku, pake aja dulu, kan kamu belum beli handuk" kata abang Parman sambil tersenyum mengajakku bergurau.
Aku pun menghampiri pintu yang Abang Parman tunjuk ke aku, aku pun bergegas menuju tempat handuk disimpan, ketika aku mau mengambil handuk punya bang Parman yang di taruh di belakang pintu, aku sangat kaget sekali, ketika melihat dua orang yang sedang tertidur pulas diatas meja pendek, di belakng pintu kamar, mereka kaget, " Iya ustadz, ane minta maaf" serentak mereka berdua meminta maaf kepadaku, mungkin karena mengira aku keamanan. Aku bingung dan ketakutan apalagi aku melihat mata mereka berdua memerah seperti orang yang sedang memuncak kemarahannya. " Maaf kak, ini aku, Moentero" jelasku. " Oh …Kamu" mereka tersenyum, ketawa ketiwi, tersipu malu, maklum mereka adalah senior yang seharusnya memberi contoh yang bagus bagi santri baru. Mereka pun beranjak dari tidurnya. Sinar lampu ketika aku membalikkan pintu untuk mengambil handuk tadi, telah membuat mata mereka binar dan bangun. Mereka kayaknya malu melihat aku yang masih baru, tapi sudah bangun dan sudah tidak ngantuk lagi. Akhirnya kami pun berlekas meninggalkan kamar pergi ke hammam bersama.

Suara percikan air begitu riuh, ada suara canda dari kawan-kawan santri, mungkin itu adalah salah satu bentuk guruan dari mereka supaya rasa ngantuk mereka hilang.
Aku pun bejaan dengan pelan, karena lantai jading terasa sangat licin sekali, lumut bertebaran dimana-mana, menambah licinnya lantai jading yang bersandingan dengan kamar 4C, mungkin karena musim hujan yang berlaru-larut.
"Ih....dingin banget!" aku kaget. Aku belum pernah merasakan kalau didunia ini ternyata ada air yang sedingin ini.
Setelah aku ambil wudhu' aku pun mau bergegas kembali kekamarku, ternyata sebelum berdiri tegak, pantatku terbentur dengan tembok kamar 4C," Cebbuarrr" Aku terjatuh kedalam jeding yang dalamnya sekita 4 meter ini, teman-teman berteriak, ada dari mereka yang menyuruh Bang Parman untuk menolong aku" Parman! Cepet tolong anak buahmu itu, entar dia tenggelam dan menjadi beku kedinginan" Bang Parman tersenyum saja, karena dia sudah tahu kalau anak Pontianak rata-rata bisa berenang, sudah ma'ruf kalau anak Pontianak di pondokku rata-rata bisa berenang. Aku benar-benar merasa mandi dengan air es malam ini, inilah malam pertamaku di pondok, malam pertama kali, aku harus merasakan dinginnya air Malang, ingin aku menangis, aku tidak akan betah dengan Susana yang sangat kontras dengan suasanaku sebelumnya .
Sesampainya di kamarku, kakak-2ku pada tersenyum semuanya, seakan mereka mau menghiburku. " Itu artinya jeding ingin berkenalan denganmu dan dia sayang sama kamu" Bang Parman menghiburku.
" Kok bisa tercebur ke jading, gimana ceritanya?"Tanya abang yang lain.
Aku masih sedih, kedinginan, dan trauma dengan kejadian tadi, aku ga bisa mengeluarkan kata-kata sedikitpun. " Dia kebentur dengan tembok kamar 4C aja, maklum disitu kan tempatnya sempit, jadinya dia jatuh deh" Jawab Bang Parman yang melihat langsung kejadian itu.
Kamarku sudah kosong, semuanya seniorku sudah menuju ke Musholla, aku masih sibuk dengan pakaianku, maklum pakaianku masih ada didalam cover, aku merasa gak betah, pusing dengan kejadian yang terjadi padaku, tapi aku masih ingat pesan orang tuaku" Ingat! Dimanapaun kamu mencari ilmu pasti ada cobaannya" Aku yakin kejadian tadi adalah sebagian dari cobaan buatku.
Terdengar dari musholla alunan Syahdu tarheman (sholla-sholla), suaranya terdengar begitu merdu, lembut, halus, kefasehan bahasa arabnya semakin menghiasi keindahan waktu subuh datang, tarikan suaranya tatkala menukik membuat hatiku bergetar, gema sholawat yang di bacanya membuatku ingin cepat keluar dari kamarku dan ikut berdendang memuji kebesaran Allah Swt dan bersholawat atas baginda Rasullah Saw, untuk mengharapkan syafa'atnya kelak di hari kiamat.
Sesampainya aku di tangga turun menuju musholla, aku kaget, kagum, terkesima dengan keadaan yang belum pernah aku temui, hatiku taljub dan belum pernah aku meliha situasi yang sperti ini, ratusan santri sudah terta rapi tanpa ada yang mengaturnya, mereka mengatur posisi mereka masing-masing, mereka melakukan kesibukannya masing, ada di antara mereka yang menghafal tashrufan (shorrof), nadzom imriti, alfiyah,, maksud bahkan ada yang menghafal al-quran, ada juga yang sedang sibuk memutar tasbihnya dengan khusuk, ada juga yang cuman mendengarkan alunan indah tarheman ustadz Ma'sum Abdi. Semua tempat sudah penuh, tidak ada yang tidak terisi, aku melihat-lihat tempat yang masih kosong tanpa menghiraukan kawan-kawan yang sibuk dengan amalannya dan mereka pun tidak menghiraukan aku. " Alhamdulillah disana masih ada tempat yang kosong, didekat pintu lagi, ntar aku bisa cepat keluarnya" Batinku. Aku pun menuju tempat yang kosong itu, "tapi kok aneh, tempat kosong itu lurus menuju tempat peimaman, "ah....ini ga penting yang penting aku dapat tempat duduk" pikirku. Setelah aku asik duduk didekat pintu masuk itu, semua santri yang ada di sampingku melihatku. Aku malu karena mereka melihatku semuanya. Akhirnya ada yang menegurku dengan teguran bahasanya sangat halus" niki kdamel lelampahan roma kiayi, Kiayi mengke lewat meriki, njenengan mboten saget linggah meriki sak derengi Yai mpun wonten ngajeng" paparnya. Tambah bingung aku, "ngomong apa orang ini" dalam batinku. Orang yang tadi menasehatiku pun juga ikut bingung karena aku belum beranjak dari tempatku. Akhirnya ada anak Pontianak, yang berada disampingnya, memberi tahuku, dia bilang" ini buat jalan kiayi, Kiayi nanti lewat disini, kamu gak boleh duduk disini sebelum kiayi berada di depan", gitu maksudnya anak jawa tadi." Oh gitu ta".sahutku.
Tak lama kemudian waktu sholat subuh pun tiba, sesaat itu juga Kiayi rawuh (dating) untuk memimpin sholat jama'ah subuh bersama para santrinya.
Waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh pagi, bel panjang sudah berdering dan berteriak sangat kencang, aku pun terbangun dari hayalankuku," aku harus tetap semangat, kejadian seru dan lucu tadi malam itu adalah akan menjadi catatn diariku semasa di pondok ini"jiwaku bergelora. Terlihat Bang Parman sedang membaca kitab tafsir jalalain dengan khusuk, kitab yang biasa di kaji oleh Romo Kiayi, setelah sholat subuh, dia sudah biasa memoroja'ah kitabnya sehabis dia mengaji dari guru-gurunya.
" Itu adalah bel untu sholat Dhuha, biasanya ada sholat jama'ahnya diatas aula lantai dua, imamnya adalah Gus Madarik Yahya, mau sholat dhuha disana enggak? Biara ane antar kesana sekalain ane juga sholat berjama'ah juga" jelasnya.
"Waduh! Bagus banget tu, tapi ane ngambil whudu' dulu ya bang, tunggu bentar aja!"pintaku. "Siip deh, ane tunggu ya" jawabnya
Sambil berjalan menuju aula," emang masuk sekolahnya jam berapa bang?" tanyaku.
Masuk sekolah diniyah jam tujuh pagi"jawabnya dengan lembut. " o0o..Gitu " timbalku.
Jam tujuh pas, aku berada di kamar sendirian, semua seisi pondok sudah sepi, para santri sudah berada di kelasnya masing-masing, yang sekolah di sekolah utara pun sudah berangkat semuanya, aku hanya mendengar suara nadzoman imriti dari aula tempat sholat Dhuha berjama'ah yang saling bertautan, terdengar sangat kompak, rapi, aku sangat senang mendengarnya, aku mulai merebahkan badanku untuk melanjutka n tidurku yang semalam belum puas, aku belum bisa mengikuti pelajaran, karena masih belum punya kitab pelajaran, buku tulis dan kelasku pun belum jelas, entah aku akan diterima dikelas berapa, apa dikelas sifir (nol) atau langsung naik kelas satu, yang letaknya di aula, lantai dua.
" Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar" Aku kaget bukan kepalang, badanku seakan bergetar keras, seakan ada yang mengoyang-goyangkan kamarku, apalagi aku tinggal di kamar 11.A, di lantai dua. Suara gemuruh, bagai ribuan kaki terdengar keras kekamarku, suara itu bermuara dari jendela kamarku, yang dekat dengan sula, semua santri di aula berteriak histeris, mereka berlarian turun dari atas aula lantai dua itu. Aku bangun. Mencoba bergegas untuk melihat, ada apa gerangan?. Dari jendala kamarku, aku melihat aula yang berdiri bemenjulang tinggi itu seakan sedang berdangdut ria, atapnya berjoget poco-poco, sama seperti kamarku yang bergoyang-goyang. Aku sangat menikmati pemandangan itu, walupun agak berputar-putar karena di kamarku juga bergetar keras. Pemandangan yang sangat aneh, yang belum pernah aku temui semenjak lahir, sebuah bangunan yang sangat besar bisa berjoget. Aku mulai pusing. Aku keluar dari kamarku. Aku lihat para santri berkumpul semuanya di mosholla, mereka bertakbir, bertasbih dan ada juga yang adzan.
" Moentero..! Cepet lari turun kesini" Abang Parman tampak dari kejauhan, diari mosholla memanggilku.
Akupun berlari secepat mungkin, krena setelah Bnag Parman memanggilku ternyata getaran itu dating lagi, suara santri ada yang berteriak histeris, menggetarkan bulu romaku. Aku berlari dengan cepat menuju ke Mosholla.
" Itu tadi Apa Bang Parman?" Tanyaku.
" Itu namanya Lindu atau gempa Moentero, klo dia pontianak emang jarang sekali ada" Bang Parman memberi tahuku.
" Kalau ada seperti lindu lagi, kamu langsung masuk ke masjid atau mosholla, ada gempa apa saja cepat-cepat masuk ke masjid atau mosholla dimanapun kamu berada dan baca takbir atau tasbih!" Bang Parman menasehati." InsyaAllah Bang" Jawabku.
Setelah lama menunggu ternyata gempa sudah tidak datang lagi. Para santri pun sudah berpencar, memasuki kamar masing-masing. Jam sudah menunjukkan pas pukul sembilan, maka otomatis waktu istirahat sudah tiba. Aku masih trauma. Aku duduk termenung dengan kejadian tadi. Aku belum pernah merasakan kejadian seperti tadi. Apakh ini sebagai kisah rentetan yang menjadi cobaan buatku? Karena aku sangat trauma denga kejadian selama, yang bising, ribut, susasa tidak mengasikkan dan harus mandi dimalam hari yang airnya dingin seperti Es. " Ah.... Ini adalah sebagian cobaan yang datang menghadang, aku harus tetap semangat" dalam keyakinanku.


.



posted by Miskari Ahmad at 17.09

1 Comments:

Huehehehehe....
aku mpe terpingkal-pingkal bacanya... huhuhu... kok parah nian nasibmu,Bang???
aku dulu awal2 mondok malah sangat betah. baru merasakan tak betah setelah kembali dari liburan...
hehehe... moga anak-anakku kelak gak ngalami pengalaman pertama mondok kyk pyn,Bang...
:)

22 September 2009 pukul 19.07  

Posting Komentar

<< Home